Latest News

Sunday, June 5, 2016

Scientist Bilang Gula “R” dalam “RNA” Mungkin Berlimpah di Luar Angkasa

Komet (Sumber: NASA APOD)

Penelitian baru menunjukkan bahwa gula ribosa, huruf R di RNA (Asam Ribonukleat), mungkin ditemukan di komet dan asteroid yang melintasi tatasurya dan mungkin lebih berlimpah di luar angkasa daripada yang pernah dipikirkan sebelumnya.

Penemuan ini berimplikasi tidak hanya dalam studi menentukan asal kehidupan di bumi namun juga pemahaman bahwa mungkin ada kehidupan diluar planet kita.

Scientist telah mengetahui bahwa beberapa molekul yang penting untuk terjadinya kehidupan, termasuk asam amino, basa nukleat dan lainnya dapat dibuat melalui interaksi komet es dan radiasi luar angkasa. Tapi ribosa, yang menjadi tulang punggung RNA sulit dipahami, hingga sekarang.

Karya baru ini, dipublikasikan (5/4) di jurnal ilmiah Science, “Seperti mengisi bagian dari puzzle” kata astrokimiawan dari NASA Ames Research Center, Andrew Mattioda. “Bila semua molekul yang penting untuk kehidupan ada dimana-mana di luar angkasa, probabilitasnya jadi lebih tinggi kalo kau bisa menemukan kehidupan di luar Bumi” katanya.

RNA, singkatan dari Asam Ribonukleat, adalah salah satu dari tiga makromolekul yang penting untuk semua kehidupan di Bumi.  Dua yang lain adalah DNA dan protein.

Banyak scientist percaya bahwa RNA adalah molekul yang lebih tua daripada DNA dan sebelum DNA ada, mungkin “dunia RNA” eksis di Bumi. Tapi, ribosa, komponen kunci dalam RNA hanya terbentuk dalam kondisi tertentu, dan kondisi itu, kata scientist, tidak terjadi di planet kita sebelum makhluk hidup berevolusi. Jadi, darimana ribosa dalam molekul RNA pertama muncul?

Untuk melihat apakah molekul ini mungkin dikirim ke Bumi melalui komet, sekelompok peneliti membuat ulang kondisi tata surya awal di sebuah lab di Perancis untuk melihat apakah ribosa dapat dibuat di luar angkasa.

Mereka memulai dengan air, metanol, dan ammonia karena molekul berikut sangat melimpah di tata surya awal dan di awan gas di seluruh alam semesta. Bahan tersebut diletakkan dalam vakum dan kemudian didinginkan ke suhu cryogenik 80 derajat kelvin dan diradiasi dengan UV. Es yang dihasilkan kemudian dipanaskan ke suhu ruang yang menyebabkan molekul yang mudah menguap menyublim sehingga menghasilkan lapisan tipis material.

“Simulasi ini hanya untuk es komet, tidak untuk debu komet” kata Uwe Meierhenrich, seorang kimiawan di Universitas Sophia Antipolis di Nice, Perancis, dan salah satu penulis jurnal. Penelitian ini butuh waktu enam hari dan menghasilkan 100 mikrogram residu es di lab.

Es komet buatan sudah dibuat berkali kali di berbagai lab di seluruh dunia, namun baru sekarang para ilmuwan dapat mendeteksi gula dan molekul terkait gula lainnya seperti ribosa dalam sampel.

Cornelia Meinert, Universitas Sophia Antipolis, juga menjelaskan bahwa tidak hanya gula yang tercipta namun juga asam amino, asam karboksilat, dan alkohol. “Kami dihadapkan pada sampel yang sangat kompleks dengan molekul beragam, sehingga identifikasinya sangat sulit”. Meinert bilang itu hingga kelompoknya menggunakan teknik baru bernama Kromatografi Gas Multidimensi yang memungkinkan mereka mendeteksi ribosa.

Menambahkan gula ke dalam daftar bahan yang bisa terbentuk di luar angkasa adalah langkah penting untuk memahami apakah bahan penyusun kehidupan dapat membentuk kehidupan di planet lain. “Selama ini material tersebut berperan dalam mengawali kehidupan. Ada kemungkinan mereka akan muncul untuk membantu” kata Scott Sandford dari Ames Research Center NASA.

[ Phys | Scientists say the 'R' in RNA may be abundant in space | Deborah Netburn ]

Baca jurnal selengkapnya disini:
“Ribose and related sugars from ultraviolet irradiation of interstellar ice analogs”
Link Download: http://science.sciencemag.org.sci-hub.io/content/352/6282/208


No comments:

Post a Comment

Recent Post